![]() |
| Vitamin C tetap penting bagi tubuh, tetapi konsumsi dalam jumlah berlebihan tidak selalu memberikan manfaat tambahan. (Dok. Ist) |
IDNHITS.COM — Vitamin C kerap menjadi pilihan ketika seseorang mulai merasakan gejala pilek atau flu, tetapi anggapan bahwa konsumsi lebih banyak dapat membuat penyakit cepat hilang tidak sepenuhnya benar.
Dokter THT Hu Hao-chun menjelaskan sejumlah kesalahpahaman yang masih banyak dipercaya mengenai vitamin C. Penjelasan tersebut, seperti dilansir The Standard, mencakup manfaat vitamin C terhadap pilek, batas konsumsi, hingga risiko kesehatan akibat asupan berlebihan.
Vitamin C tidak otomatis mencegah pilek
Mengonsumsi vitamin C setiap hari masih sering dianggap sebagai cara untuk mencegah seseorang terkena pilek. Namun, menurut Hu Hao-chun, anggapan tersebut berkembang sejak 1970-an setelah buku karya peraih Nobel Linus Pauling membahas manfaat vitamin C.
Penelitian dalam skala besar yang dilakukan setelah itu tidak menemukan bukti bahwa konsumsi suplemen vitamin C setiap hari dapat menurunkan kemungkinan terkena pilek pada masyarakat umum.
Artinya, menambah konsumsi vitamin C ketika tubuh mulai terasa kurang sehat tidak serta-merta membuat seseorang kebal terhadap pilek.
Manfaatnya terhadap pilek relatif kecil
Vitamin C tetap dapat memberikan manfaat tertentu, tetapi pengaruhnya terhadap pilek dinilai relatif kecil. Pada orang yang baru mengonsumsinya setelah gejala muncul, vitamin C disebut hampir tidak berpengaruh terhadap durasi maupun tingkat keparahan penyakit.
Sementara bagi orang yang sudah rutin mengonsumsi vitamin C sebelumnya, durasi pilek rata-rata dapat berkurang sekitar 8 persen atau sekitar setengah hari.
Karena itu, mengonsumsi vitamin C dalam jumlah besar setelah mulai bersin atau mengalami hidung berair tidak berarti pilek akan langsung menghilang.
Dosis berlebihan bisa memicu gangguan pencernaan
Vitamin C termasuk vitamin larut dalam air sehingga kelebihannya dapat dikeluarkan melalui urine. Meski demikian, konsumsi dalam jumlah berlebihan tetap dapat menimbulkan efek samping.
Asupan lebih dari 2.000 miligram per hari dapat menyebabkan gangguan pencernaan seperti diare, mual, dan kram perut.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meningkatkan dosis tanpa memperhitungkan kebutuhan tubuh bukan berarti memberikan manfaat yang lebih besar.
Konsumsi berlebihan juga terkait risiko batu ginjal
Perhatian lebih diperlukan pada konsumsi vitamin C dosis tinggi dalam jangka panjang, terutama bagi orang yang memiliki masalah ginjal atau pernah mengalami batu ginjal.
Menurut Hu Hao-chun, asupan vitamin C berlebihan dapat meningkatkan risiko terbentuknya batu ginjal kalsium oksalat.
Karena itu, suplemen vitamin C dosis tinggi sebaiknya tidak dikonsumsi sembarangan hanya dengan anggapan bahwa semakin banyak akan memberikan perlindungan tambahan bagi tubuh.
Kebutuhan vitamin C dapat dipenuhi dari makanan
Hu Hao-chun menyarankan agar kebutuhan vitamin C sebisa mungkin diperoleh dari makanan alami. Salah satu pilihan yang disebutkan adalah jambu biji karena mengandung vitamin C dalam jumlah tinggi.
Satu buah jambu biji disebut dapat memenuhi atau bahkan melebihi kebutuhan vitamin C harian.
Vitamin C tetap merupakan nutrisi penting bagi tubuh, tetapi suplemen bukan obat instan untuk mencegah maupun menghilangkan pilek. Memenuhi kebutuhan nutrisi melalui pola makan seimbang menjadi bagian penting sebelum mempertimbangkan konsumsi suplemen dalam dosis tinggi.


