![]() |
| Tren diet di kalangan anak muda China menyoroti konsumsi makanan bertekstur keras dan kenyal untuk menahan keinginan makan. (Dok. Ist) |
IDNHITS.COM — Tren diet di kalangan Gen Z China berkembang dengan cara yang tidak biasa. Sejumlah pelaku diet memilih camilan bertekstur keras, kenyal, atau hambar karena aktivitas mengunyah dalam waktu lama dianggap dapat membantu menekan keinginan makan.
Fenomena ini ramai diperbincangkan di media sosial. Makanan yang dipilih beragam, mulai dari dendeng sapi, roti beku, biskuit bayi yang biasa diberikan saat tumbuh gigi, hingga permen karet bebas gula.
Bagi sebagian pelaku diet, rasa makanan bukan lagi faktor utama. Mereka lebih memperhatikan seberapa lama makanan tersebut dapat dikunyah karena sensasi itu dianggap membuat mulut tetap aktif sekaligus memberi rasa kenyang.
Camilan keras untuk mengendalikan nafsu makan
Salah satu pengguna media sosial berusia 37 tahun dari Daerah Otonom Guangxi Zhuang dengan akun @yigexiangmujingli mengaku menjadikan dangshen sebagai camilan.
Dangshen merupakan jenis akar yang dalam pengobatan tradisional Tiongkok atau TCM dipercaya memiliki manfaat untuk memperkuat limpa dan paru-paru.
Kepada SCMP, ia mengatakan tetap berolahraga, tetapi kesulitan mengontrol nafsu makan. Karena itu, ia mencari makanan yang membutuhkan banyak kunyahan agar dapat tetap fokus bekerja tanpa meningkatkan berat badan.
Selain dangshen yang memiliki rasa sedikit manis, ia juga sesekali mengonsumsi dendeng sapi tanpa bahan tambahan serta permen karet bebas gula.
Bagi kelompok tersebut, makanan yang semakin alot atau sulit dikunyah justru dinilai semakin menarik sebagai camilan diet. Jumlah kalori masih diperhatikan, tetapi durasi mengunyah menjadi pertimbangan tersendiri.
Makanan tradisional ikut kembali populer
Perubahan kebiasaan tersebut turut membuat sejumlah makanan tradisional China yang bertekstur keras atau kenyal kembali dicari anak muda.
Salah satunya kue keras Zhoushan dari Provinsi Zhejiang. Makanan berbahan beras ketan yang dikeringkan di bawah sinar matahari itu dikenal sangat keras hingga kerap digambarkan seperti "sekeras batu bata".
Secara historis, kue Zhoushan digunakan sebagai makanan awetan untuk perjalanan serta aktivitas militer dan pelayaran. Teksturnya yang keras kini justru menjadi salah satu alasan makanan tersebut dilirik kembali oleh pelaku diet.
Makanan tradisional lain seperti kue beras goreng dari Guangdong dan panekuk dari Shandong juga mendapat perhatian karena membutuhkan banyak kunyahan sebelum dikonsumsi.
Ada yang mengunyah stik untuk anjing
Tren tersebut juga memunculkan praktik yang lebih ekstrem. Seorang pengguna media sosial mengaku mengunyah stik yang memang diperuntukkan bagi anjing ketika mengalami kecemasan berat saat menghadapi ujian.
Ia menyebut dapat menghabiskan waktu hingga dua jam untuk satu stik. Menurut pengakuannya, aktivitas itu membantunya merasa lebih tenang dan dianggap turut membantu menjaga kebersihan mulut.
Camilan kenyal sendiri bukan satu-satunya strategi diet yang berkembang di kalangan anak muda Tiongkok. Sebagian lainnya memilih makanan dengan indeks glikemik rendah serta "makanan manusia", yakni daging dan sayuran yang dipotong dadu lalu dibekukan.
Mengunyah dikaitkan dengan stres dan pola makan
Aktivitas mengunyah memang disebut dalam sejumlah penelitian dapat membantu mengurangi stres mental. Dalam prinsip pengobatan tradisional Tiongkok, mengunyah makanan secara menyeluruh dan makan perlahan juga dipercaya mendukung proses pencernaan.
Namun, anggapan bahwa semakin lama mengunyah pasti dapat mempercepat metabolisme atau menurunkan berat badan perlu disikapi dengan hati-hati. Upaya menjaga berat badan tetap berkaitan dengan pola makan secara keseluruhan serta kecukupan nutrisi.


