![]() |
| Ilustrasi aktivitas bermain game dan kaitannya dengan fungsi kognitif berdasarkan hasil penelitian yang dibahas dr. Adam Prabata. (Dok. Ist) |
IDNHITS.COM — Bermain game tidak selalu berkaitan dengan anggapan sebagai aktivitas yang sekadar membuang waktu. Sebuah penelitian yang dibagikan dokter sekaligus influencer kesehatan dr. Adam Prabata menunjukkan adanya hubungan antara kebiasaan bermain game dan performa kognitif yang lebih muda pada sejumlah partisipan.
Penelitian yang dibahas tersebut berjudul Characterizing the cognitive and mental health benefits of exercise and video game playing. Studi ini melibatkan 2.000 orang dari berbagai negara untuk melihat kebiasaan bermain game dan kemudian membandingkannya dengan kemampuan kognitif.
Namun, dr. Adam mengingatkan hasil penelitian itu tidak boleh langsung dimaknai sebagai bukti bahwa bermain game menyebabkan otak menjadi lebih awet muda. Hubungan yang ditemukan dalam penelitian masih berada pada tingkat asosiasi.
Rutin bermain game dikaitkan dengan fungsi kognitif lebih muda
Dalam unggahannya di Instagram, dr. Adam menjelaskan bahwa penelitian tersebut menemukan perbedaan performa kognitif antara kelompok yang rutin bermain game dan kelompok yang tidak rutin bermain.
“Penelitian ini merekrut 2.000 orang dari berbagai negara, kemudian dilihat kebiasaan bermain game-nya, lalu dibandingkan kemampuan kognitif otaknya,” tulis dr. Adam.
Menurut hasil analisis yang ia bagikan, partisipan yang bermain game lebih dari lima jam per minggu menunjukkan performa kognitif yang disebut setara dengan 13,7 tahun lebih muda dibandingkan kelompok yang tidak rutin bermain game.
Sementara itu, mereka yang bermain game kurang dari lima jam per minggu menunjukkan kemampuan kognitif yang disebut lima tahun lebih muda dibandingkan kelompok non-gamer.
Temuan tersebut berkaitan dengan sejumlah fungsi kognitif yang berperan dalam aktivitas sehari-hari. Durasi bermain game menjadi salah satu variabel yang dibandingkan dalam penelitian tersebut.
Memori hingga kecepatan memproses informasi
Dr. Adam menyebut terdapat beberapa kemampuan kognitif yang tampak berbeda pada kelompok yang rutin bermain game.
“Kemampuan kognitif otak yang menjadi awet muda pada orang yang rutin main game meliputi memori jangka pendek, kemampuan penalaran, kemampuan verbal, kecepatan memproses informasi,” jelas dia.
Memori jangka pendek, penalaran, kemampuan verbal, dan kecepatan pemrosesan informasi merupakan bagian dari fungsi kognitif yang diamati dalam penelitian. Karena itu, pembahasan mengenai manfaat bermain game dalam konteks studi ini lebih berkaitan dengan performa kognitif daripada kesimpulan bahwa game secara langsung memperlambat penuaan otak.
Perbedaan hasil antara kelompok yang bermain kurang dari lima jam dan lebih dari lima jam per minggu juga menjadi bagian yang menarik dari analisis penelitian tersebut. Meski demikian, hasil tersebut tetap perlu dibaca sesuai desain dan batasan penelitian.
Dokter ingatkan hasil penelitian bukan sebab-akibat
Di tengah temuan yang terlihat positif bagi gamer, dr. Adam meminta masyarakat tidak terburu-buru mengambil kesimpulan.
“Tapi ingat, penelitian ini baru asosiasi ya levelnya, bukan sebab akibat. Masih mungkin ada faktor lain yang berpengaruh ke kemampuan kognitif, selain rutinitas main game,” tegas dr. Adam.
Pernyataan itu penting karena penelitian yang menunjukkan adanya hubungan antarvariabel belum otomatis membuktikan bahwa salah satu faktor menjadi penyebab langsung faktor lainnya.
Dalam konteks ini, adanya performa kognitif yang lebih muda pada kelompok yang rutin bermain game tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa bermain game merupakan penyebab utama perbedaan tersebut. Masih ada kemungkinan faktor lain ikut memengaruhi kemampuan kognitif para partisipan.
Game bukan satu-satunya penentu kesehatan otak
Temuan penelitian tersebut dapat menjadi gambaran bahwa aktivitas bermain game memiliki kaitan yang menarik dengan fungsi kognitif. Namun, hasil itu belum cukup untuk menjadikan bermain game sebagai ukuran tunggal kesehatan otak.
Penjelasan dr. Adam menempatkan hasil penelitian dalam konteks yang lebih hati-hati. Artinya, manfaat atau hubungan yang ditemukan perlu dipahami berdasarkan bukti penelitian, bukan sekadar dijadikan klaim bahwa semakin sering bermain game pasti membuat otak lebih awet muda.
Bagi masyarakat, temuan ini setidaknya menunjukkan bahwa persepsi terhadap bermain game dapat dilihat dari sudut pandang yang lebih luas. Namun, kesimpulan mengenai dampaknya terhadap kesehatan kognitif tetap memerlukan pemahaman terhadap desain penelitian dan faktor lain yang mungkin berpengaruh.


